Tentang Samadhya


Bermula dan siapa
JEJAK AWAL SAMADHYA

Pada mulanya, ini adalah kegelisahan acak dari kami, pekerja sosial, seni dan akademik upahan yang merasa kehilangan kebahagiaan, kehilangan kebebasan dan otoritas atas kreatifitas, rasa dan pemikiran, serta karya sendiri. Krisis ini, kesakitan atas alienasi ini, kami yakini juga semakin merasuk membisu di dalam hati dan hidup keseharian banyak orang. Kian lama kian meninggalkan luka mendalam, tumbuh berkembang di dalam waktu dan tak terungkapkan, dan menuntut untuk sekarang juga diteriakkan. Pada mulanya, ini hanyalah harapan untuk bisa bersama-sama melepaskan teriakan.

Dari titik itu, lahirlah kemudian mimpi untuk membangun ruang pendidikan yang reflektif, yang bisa mengajarkan pada seluruh manusia yang ada di dalamnya, bagaimana cara memanusiakan manusia. Bagaimana cara bersolidaritas, berbagi dan hidup bersama. Ruang pendidikan yang setiap orang di dalamnya berhak untuk tidak mengerjakan, mengajarkan, dan mempelajari apa pun kecuali hal baik yang mereka sukai. Ruang pendidikan yang bisa mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang mampu menjalani arti kata ‘cukup’. Mimpi akan ruang pendidikan yang reflektif itu membuat kami kian gelisah, melamun, dan akhirnya menemukan beberapa pertanyaan mendasar. Apa sesungguhnya krisis yang bangsa ini sedang alami; formasi ideologis yang melingkupinya; serta, agensi dan kegagalan dunian pendidikan, gerakan sosial dan seninya. Pertanyaan mendasar tersebut menjadi pijakan kami untuk membayangkan seperti apakah ruang pendidikan yang reflektif itu: paradigmanya, visi-misinya, sistem belajar dan mengajarnya, kerja sosial praksisnya, serta ukuran keberhasilan dan kegagalannya.

Tak ayal, kami pun seolah lupa pada ruang dan waktu. Kegelisahan ini terus mendorong dan membuat kami kehilangan rasa lelah dalam berpikir, berdiskusi dan berimajinasi. Hingga sampailah kami pada sebuah kesimpulan bahwa, ruang pendidikan yang reflektif itu hanya akan jadi sebuah kemustahilan belaka sebelum kami berani untuk secara reflektif pula membangun dan menjalani ruang hidup bersama.

Tak bisa kami sangkal, ini adalah kesimpulan yang sangat meyakinkan sekaligus mendebarkan. Lalu dengan perlahan tapi pasti, kami pun memulainya dari belajar menerima bahwa kehidupan berkomun adalah syarat mutlak dari mimpi dan cita-cita tersebut. Satu demi satu kami menjalaninya, batu demi batu kami mendirikannya. Dan dengan semangat untuk menjadi tangguh dan sederhana, kami menyebut diri sebagai Samadhya.


ARTI NAMA

Samadhya


Nama Samadhya mencerminkan makna dua kata sekaligus: sak madyo dan semedi. Sak madyo dalam bahasa Jawa kurang lebih berarti tengah-tengah, tidak berlebihan, wajar, pantas, tidak ekstrem. Sementara semedi secara umum berarti perenungan, meditasi atau penghayatan.

Hal yang ingin diucapkan dengan kata “samadhya” adalah kehendak untuk berpikir, bersiasat dan bertindak dengan menekankan keseimbangan. Di masa di mana seseorang sebagai individu maupun anggota masyarakat dituntut memilih satu di antara dua hal ekstrem, Samadhya adalah lambang sikap wajar dan pantas. Wajar karena tidak menyingkirkan diri dari arus utama, pantas karena tidak membiarkan diri larut olehnya. Sikap penuh kewajaran dan kepantasan itu hanya dimungkinkan jika gagasan dan pikiran, tindakan dan siasat, tanggapan dan kritik dituai dari proses penghayatan yang penuh terhadap apa yang ada dan terjadi.

Kewajaran dan kepantasan diperlukan untuk melampaui dua pilihan ekstrem yang selalu menghadang kehidupan kontemporer. Mulai dari soal pilihan sistem ekonomi-politik, nilai-nilai, sampai jenis makanan yang akan dikonsumsi atau jenis kata yang akan diucapkan, semuanya terpilah jadi dua kutub esktrem. Ke dalam dua kutub itu bisa dimasukkan bermacam kata kunci yang sama-sama memukau: kapitalisme atau sosialisme, Kanan atau Kiri, Barat atau Timur, Utara atau Selatan, Maju atau Berkembang, Berpendidikan atau Terbelakang, Sekuler atau Religius, dan lain sebagainya. Ber-samadhya sebagai sebuah tindakan adalah ikthiar melampaui pilihan-pilihan menjebak ini. Ikhthiar itu diterjemahkan dengan meruangkan solidaritas. /

Solidaritas sebagai laku adalah tindak saling cukup-mencukupi, genap-menggenapi. Asumsi yang ada di baliknya adalah tak ada manusia perorangan maupun komunal yang utuh dan penuh. Memandang diri sempurna sehingga ingin berbagi melulu adalah ekstrem. Sebaliknya, merasa kosong tak ada apa-apanya adalah ekstrem yang lain. Oleh karena itu, keseimbangan antara memberi dan menerima adalah kewajaran yang pantas diwujudkan. Samadhya adalah ruang di mana orang memberi dan menerima hal apa pun: pengetahuan serta pengalaman; teori serta strategi; gagasan serta materi; dan, tentu saja kebahagiaan serta kesedihan.


Siapa saja yang menjalankan Samadhya
Pernah belajar Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat (SFT) Driyarkara dan Ilmu Hukum di Universitas Indonesia. Dia berkesempatan mendalami topik konflik dan perdamaian di program Master Peace and Conflict Studies di Pannasastra University, Cambodia. Pengalamannya lebih banyak berhubungan dengan kerja-kerja NGO. Bidang atau topik-topik yang diminati dan senantiasa didalaminya antara lain adalah alternatif terhadap globalisasi neoliberal, spiritualitas gerakan sosial dan koperasi credit union.
Lahir di Lamongan pada bulan Mei 1979, alumni UIN sunan Kalijaga dan Program Magister Ilmu Religi dan Budaya (IRB) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Sejak 1998 menekuni proses kreatif di dunia seni pertunjukan (teater dan musik). Tidak terlalu rajin membaca dan menulis. Sebagian besar waktu hidupnya dia habiskan dengan melamun dan tertawa.
Akrab dipanggil Inyiak. Pernah sekolah di Pondok Pesantren Madrasah Islamiyah Canduang, Bukittinggi. Setelah itu belajar filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan kajian budaya di Program Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dia meminati kajian humaniora dan pascakolonial. Kegiatan profesionalnya adalah penerjemah-editor buku-buku ilmu sosial dan peneliti lapangan bersama sebuah lembaga penelitian di Jakarta seputar pemberdayaan masyarakat desa.
Pernah berkuliah sarjana dan pascasarjana Antropologi Budaya UGM. Sejak 2008 menggemari penelitian etnografi dan sedang mempelajari kajian agraria-gender. Ia tengah membuka lapak jualan pakaian bernama Larik Lurik.
Akrab dipanggil Wawan. Pernah kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi, UGM. Menekuni dunia penulisan kreatif dan digital branding/campaign. Masih tertarik dengan kajian pemuda dan media komunitas. Hobi: scrooling timeline.