SEKOLAH


SAMADHYA INSTITUTE

Sekolah Samadhya Institute


Sekolah Samadhya Institute adalah berbagai kegiatan pendidikan kritis-reflektif yang diselenggarakan oleh Samadhya Institute baik secara mandiri maupun bekerjasama dengan pihak lain.

Sekolah ini adalah bagian dari upaya Samadhya Insitute memelihara sikap ‘belajar terus-menerus’ untuk dirinya sendiri dan menyebarluarkan keyakinan-keyakinan reflektifnya mengenai sistem dunia yang melingkupi kita sekarang ini beserta upaya-upaya melampauinya.


Mengapa menggagas pendidikan tinggi baru?

SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL KEMANUSIAAN


Modernisasi dan pembentukan manusia modern, harus diakui masih menjadi spirit paling kuat dalam pendidikan di Indonesia, baik dari tingkat dini sampai di tingkat lanjutan. Dari kecil hingga dewasa, anak Indonesia dididik dalam semangat kompetisi demi mendapat manfaat sebesar-besarnya untuk diri-sendiri. Lulusan perguruan tinggi dituntut untuk memiliki etos kerja modern, yaitu: efisien, efektif, terampil, penuh disiplin, terkelola dalam manajemen waktu yang baik, berorientasi hasil dan tidak perlu berpikiran kritis. Tujuan hidup para lulusan perguruan tinggi adalah menjadi sukses, dan sukses hanya punya satu arti, yaitu: kaya.

Perempuan dan laki-laki dewasa lulusan perguruan tinggi belum disebut bekerja atau mempunyai pekerjaan jika belum menjadi karyawan atau pegawai negri sipil. Belum memiliki status sosial yang membanggakan kalau sekedar jadi pengusaha kecil-kecilan. Anak desa berangkat ke kota untuk mencapai peningkatan status sosial ekonomi pada standar-standar tersebut di atas, dan disebut berhasil jika mampu ‘naik’ menjadi anggota kelas menengah kota. Lantas pada akhirnya, hari-hari ini orang muda Indonesia kebanyakan sangat piawai berfikir praktis, instan, cepat dan bersikap pragmatis pada persoalan-persoalan yang dihadapi. Perguruan tinggi menjadi mesin besar pencetak manusia-manusia seperti mesin yang terampil secara teknis, tetapi hampir tuna sosial, seringkali apolitis dan tumpul perasaannya.

Proses pembendaan (reification) manusia ini hampir tak terhentikan. Rasa solidaritas, tradisi berbagi, bertukar, empati dan kebersamaan yang dulu sering dibanggakan sebagai watak keindonesiaan, bahkan pernah disebut sebagai inti jati diri bangsa, sekarang telah menjadi nilai-nilai yang usang dan asing. Kebangkrutan sosialisme Indonesia ini adalah krisis kemanusiaan. Tingkat kematian yang dipicu oleh kemiskinan, seperti bunuh diri, malnutrisi, juga peningkatan penyakit kejiwaan dan angka kekerasan, serta kriminalitas, barulah sebagian kecil dari potret nyata krisis kemanusiaan. Belum lagi dilengkapi oleh perluasan kerusakan alam di berbagai pelosok Indonesia dan kerusakan tubuh yang diakibatkannya.

Perguruan tinggi Indonesia sebagai salah satu sistem pendukung dari lahirnya krisis kemanusiaan ini, juga di dalamnya mengalami degradasi akut. Ilmu yang dikembangkan mungkin saja mengalami kemajuan, tapi etika keilmuan tidak berkembang seiring kemajuan sains. Pandangan bahwa ilmu adalah netral menjadi pandangan dominan yang dengan mudah mengerosi etika kemanusiaan dalam memperhitungkan implikasi dan konsekuensi dari perkembangan pengetahuan. Tanpa rasa bersalah, misalnya, seorang ilmuwan dari perguruan tinggi ternama bisa menjadi saksi ahli di pengadilan dan memberi kesaksian yang melemahkan dan merugikan posisi rakyat yang sedang memperjuangkan hidupnya, menjual keahliannya kepada korporasi besar untuk mengkooptasi dan memanipulasi warga pedesaan demi mendapatkan tanah mereka, juga dengan dalih netralitas ilmuwan sosial berani melakukan ‘rekayasa sosial’ untuk mengubah petani menjadi pegawai cleaning service demi mensukseskan pembangunan infrastruktur. Jika keputusan-keputusan yang dihasilkan oleh para ilmuwan sosial dan budayawan yang mengajar mahasiswa di perguruan tinggi di Indonesia tersebut dianggap wajar, maka tidak heran jika krisis kemanusiaan selalu direproduksi tanpa henti.

Gelombang demi gelombang krisis kemanusiaan perlu dihentikan pada titik reproduksinya, yaitu lembaga pendidikan. Meskipun masih sangat minim, mendirikan pendidikan alternatif tingkat dasar sampai menengah sudah dirintis dan dikembangkan oleh beberapa serikat tani dan pegiat lingkungan. Sekolah-sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak petani yang berjuang untuk merebut tanah atau anak-anak desa yang diharapkan selalu mencintai alam dan kehidupan pedesaan sudah berhasil melahirkan lulusan seperti dicita-citakan para pendiri sekolah-sekolah alternatif ini. Namun, ketika lulusan ‘alternatif’ ini ingin melanjutkan pendidikan, mereka terpaksa masuk ke perguruan tinggi-perguruan tinggi yang mengajarkan pembendaan manusia dan mewujudkan krisis kemanusiaan.


Membangun pendidikan tinggi baru


Kami akan membangun sebuah pendidikan tinggi yang akan menjawab tantangan untuk melahirkan manusia yang manusiawi, memberi rumah belajar pada mereka yang menolak untuk dibendakan, dan memberikan pengalaman mendidik diri dalam semangat solidaritas, kesetaraan, penghormatan dan kebersamaan.

Perguruan tinggi ini bertujuan untuk menghasilkan orang-orang muda merdeka dan reflektif, mereka yang berpikir dan berkarya dengan merdeka tanpa harus terikat pada kerja upahan, mampu memandang dunia dengan kritis dan kreatif, memiliki ketulusan dan empati sosial budaya, serta peka politik.

Ilmu sosial dan kemanusiaan yang dikembangkan akan menerapkan siklus teori-aksi-refleksi-teori. Keahlian yang diajarkan akan ditujukan untuk mengembangkan kemampuan teknis dan kreativitas yang berideologi. Pengalaman empiris akan mendapatkan porsi besar dalam proses pengajaran, sehingga lapangan praktik berupa lahan untuk bertani, berternak, pengembangan bibit lokal, sampai dengan studio musik, film, fotografi dan sanggar seni menjadi sarana penting dalam pendidikan tinggi baru ini.